Abstrak letak pembagian makhrijul huruf. Kata kunci: ilmu

 

Abstrak

Kesulitan dalam pelafalan huruf-huruf hijaiyah
yang terjadi di masyarakat sebenarnya disebabkan oleh kurangnya pemahaman
masyarakat tentang penggunaan fonetik secara benar. Faktanya, fonetik memiliki
peran yang sangat penting dalam membantu memudahkan keluarnya bunyi huruf-huruf
hijaiyah sesuai kaidah yang ditetapkan. Maka menyadari betapa besarnya
kontribusi fonetik dalam ilmu tajwid, mungkin membuat masyarakat menjadi sadar
akan pentingnya memahami tata letak pembagian makhrijul huruf.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Kata kunci: ilmu tajwid, makhrijul huruf, fonetik.

 

Abstract

The difficulty in pronunciation of the letters
Alif that occurred in the community is actually caused by a lack of
understanding of the people about the use of phonetics correctly. In fact, the
phonetic has a very important role in helping to facilitate the discharge of
the sound of the letters Alif according to rules set. Then realize how great
the contribution of phonetics in the science of recitation, may make the public
become aware of the importance of understanding the layout of the subdivision
of makhrijul letters.

Keywords: Science of recitation, makhrijul letters, Phonetics.

 

 

 

???? ?????

       ???????
?? ??? ?????? ? ???? ???? ?? ??????? ?????? ???? ?? ??? ??? ????? ??? ???????
??? ???????? ???? ????. ?? ??????? ???? ?? ????? ???? ???? ?? ???????? ???
????? ?????? ???? ?????? ????? ????? ???? ????. ?? ???? ?? ???? ?????? ???
???????? ?? ??? ???????? ??? ??? ??????? ???? ????? ??? ????? ????? ??????? ????????.

 

??????? ????????: ???? ???????? ????? ????????? ??? ????????.

 

PENDAHULUAN

Ilmu Tajwid merupakan pengetahuan tentang
kaidah dilsertai dengan cara-cara membaca Al-qur’an dengan sebaik-baiknya
dimana dalam prosesnya tentunya kita perlu mengenal dan mempelajari ilmu tajwid
yaitu tanda- tanda baca dalam tiap huruf ayat Al-Quran.(Khuruf,
Tajwid, Aswat, & An, n.d.) Tajwid merupakan ilmu yang menuntun seseorang untuk membedakan huruf-huruf yang diucapkannya, baik membaca Al-Quran
ataupun bukan. Tajwid secara harfiah berarti melakukan sesuatu dengan elok dan
indah atau bagus dan membaguskan.1 Allah swt berfirman yang
artinya “Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan/tartil
(bertajwid)”QS:Al-Muzzammil (73): 42. Ayat ini jelas menunjukkan bahwa Allah SWT
memerintahkan Nabi Muhammad untuk membaca al-Quran yang diturunkan kepadanya
dengan tartil, yaitu memperindah pengucapan setiap
huruf-hurufnya (bertajwid). Dalam ilmu Qiraah, tajwid berarti mengeluarkan huruf dari tempatnya
dengan memberikan sifat-sifat yang dimilikinya.Adapun masalah-masalah yang
dikemukakan dalam ilmu ini adalah makharijulhuruf (tempat keluar-masuk huruf).

Adapun tartil menurut bahasa berarti
membaguskan, memperindah dan perlahan-lahan. Disebutkan juga tartil adalah
memperjelas bacaan hruruf-huruf, memelihara tempat-tempat berhenti (waqof) dan
menyempurnakan harokat dalam bacaan. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah
bahwa cara membaca Al-Qur’an itu tidak sama dengan membaca buku-buku yang
berbahasa arab. Umat Islam yang membaca Al-Qur’an baik tanpa lagu maupun
dilagukan dengan indah dan merdu, tidak boleh terlepas dari kaidah-kaidah
tajwid.(Nikmah, 2015)

Lebih jelasnya ilmu tajwid adalah suatu ilmu
pengetahuan cara membaca Al Qur’an dengan baik dan benar menurut makhrajnya,
panjang pendeknya, tebal tipisnya, berdengung atau tidaknya, irama dan nadanya,
serta titik komanya yang sudah diajarkan oleh Rasululloh SAW kepada para
sahabatnya dan disebarluaskan oleh para tabi’in-tabi’in hingga kaum muslimin
dewasa ini. (Tombak Alam, 2002 : 15). Dalam pedoman transliterasi Al Qur’an
tajwid adalah melafalkan huruf-huruf Al Qur’an sesuai dengan makhrajnya dan
sifatnya serta memenuhi bacaannya. (Departemen Agama RI, 2007 : 1)(RAHAYU, 2011)

Ilmu tajwid dianggap bersifat subjektif dan
tebak-tebakan karena karena dalam aplikasinya, selalu dapat ditemukan perbedaan
akurasi bacaan antara dua atau beberapa orang. Contohnya, ketika dua orang
membaca sebuah ayat al-Qur’an, maka akan terkesan terdapat perbedaan dalam
akurasinya atau tidak selalu persis sama. Perbedaan yang terjadi bisa perbedaan
tipis atau perbedaan yang signifikan, mulai dari penuturan bunyinya, panjang
pendek, nada, intonasi bunyi yang dihasilkan, dan lain sebagainya. Di sisi lain,
ilmu fonetik merupakan ilmu murni yang bersifat objektif dan memerlukan nalar,
serta produknya dapat diuji dengan alat-alat moderen seperti spektograph,
kerongkongan imitasi, dan lain sebagainya. Dengan demikian, ilmu fonetik mirip
dengan ilmu pasti yang tidak menggunakan perkiraan subjektif. Ilmu fonetik
sangat membutuhkan daya nalar yang kuat dan proses aplikasi yang akurat
sehingga produknya dapat diukur.(Nasution,
2014). Maka dapat disimpulkan bahwasannya fonetik
dengan ilmu tajwid memiliki kaitan yang sangan erat. Oleh karenanya yang
menjadi pembahasan dalam tulisan ini yaitu pelafalan bacaan huruf hijaiyah dan
panjang pendeknya bacaan serta waqafnya yang dibacakan oleh orang non Arab yang
sering mengalami kekeliruan dalam pelafalannya, sehingga mengharapkan tujuan
bahwa orang non Arab sekalipun bisa menyesuaikan bacaannya sesuai kaidah yang
ditentukan. Mengingat bahwa kegunaan ilmu tajwid adalah agar lidah kita terjaga
dari kesalahan dalam membaca kitab Allah (Al-Quran). (Ali et al.,
2012)

 

LANDASAN TEORI

Dalam pembahasan ini, penulisi spesifikkan
terhadap ilmu tajwid, maakhrijul huruf, fonetik, dan bagaimana kontribusi
fonetik dalam ilmu tajwid.

1. TAJWID

Ilmu tajwid adalah suatu ilmu pengetahuan cara
membaca Al Qur’an dengan baik dan benar menurut makhrajnya, panjang pendeknya,
tebal tipisnya, berdengung atau tidaknya, irama dan nadanya, serta titik
komanya yang sudah diajarkan oleh Rasululloh SAW kepada para sahabatnya dan
disebarluaskan oleh para tabi’in-tabi’in hingga kaum muslimin dewasa ini.
(Tombak Alam, 2002 : 15). Dalam pedoman transliterasi Al Qur’an tajwid adalah
melafalkan huruf-huruf Al Qur’an sesuai dengan makhrajnya dan sifatnya serta
memenuhi bacaannya. (Departemen Agama RI, 2007 : 1).

Dalam membaca Al Qur’an tidak bisa terlepas
dari tajwid karena dikhawatirkan akan mengubah makna kata dalam Al Qur’an yang
menjurus kepada salah paham dan penyimpangan dari tujuan Allah dan RosulNya.
Hal inilah yang menimbulkan dampak yang negatif bahkan cenderung berbahaya.(RAHAYU, 2011).

Macam-macam
Permasalahan Tajwid

a. Idzhar

Apabila ada
nun sukun (mati) atau tanwin bertemu dengan salah satu huruf halqi ( ? ,? ,? ? ,? ,?) maka hukum bacaannya adalah
jelas.3

b. Idghom

– Idghom
Bighunnah

Apabila ada
nun sukun atau tanwin bertemu dengan salah satu huruf ( ? ? ? ?) maka harus dibaca lebur dan
berdengung.4

– Idghom
Bilaghunnah

Apabila ada
nun sukun atau tanwin bertemu

dengan salah
satu huruf (? ? ) maka harus dibaca lebur tidak berdengung.

c. Ikhfa’

Apabila ada
nun sukun atau tanwin bertemu salah satu huruf yang 15 ( ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

?). Cara membacanya adalah suara nun maupun tanwin masih

tetap
terdengar tetapi samar antara izhar dengan idghom, lagi pula bersambung dengan
makhraj huruf berikutnya, sehingga kedengarannya berbunyi seperti “ng” jika
bertemu dengan ? ? ?

(? ?) dan ada kalanya mirip suara
“ny” dan “ng” jika bertemu dengan huruf: ? ? ? ?

d. Iqlab
Apabila ada nun sukun atau tanwin bertemu dengan huruf

ba (?) maka wajib dibca Iqlab, artinya
mengganti bunyi nun sukun atau tanwin dengan suara mim (?), dengan merapatkan dua bibir
serta mendengung.

e. Hukum Mim
Sukun Apabila mim sukun bertemu huruf hijaiyah hukum

bacaannya ada
tiga macam :

-Idzhar
syafawi., yaitu ? sukun bertemu huruf selain huruf ?  dan ?, membacanya mim disuarakan
dengan terang dan jelas di bibir serta mulut tertutup.

-Ikhfa
syafawi, yaitu ? sukun bertemu huruf ?.

-Idgham mimi,
yaitu ? sukun bertemu ?. Cara membacanya adalah seperti menyuarakan mim rangkap atau
ditasydidkan.(Ali et al., 2012)

 

2. MAKHRIJUL HURUF

Menurut ‘Erbawi (2009: 87), tentang jumlah
makhraj huruf, terdapat perbedaan pendapat di antara ulama tajwid dan ulama
bahasa Arab baik ulama terdahulu maupun ulama kotemporer. Sebagian ulama
terdahulu berpendapat bahwa setiap huruf memiliki makhraj tersendiri dan
sebagian lagi berpendapat bahwa makhraj huruf berjumlah tujuh belas, enam
belas, lima belas, bahkan empat belas makhraj. Berbeda dengan ulama terdahulu,
ulama kotemporer memiliki pendapat tersendiri. Di antara mereka berpendapat
bahwa makhraj huruf berjumlah sebelas dan sebagian lagi menyebutkan sepuluh
makhraj.(Nurhayati,
2015)

Perbedaan pendapat para ulama di atas tentang
jumlah makhraj huruf pada hakikatnya menggambarkan adanya kesamaan makhraj di
antara huruf-huruf Alquran. Sebagaimana diketahui, huruf Alquran berjumlah dua
puluh sembilan jika alif termasuk di dalamnya atau dua puluh delapan huruf jika
tanpa alif. Sementara itu, jumlah makhraj tidak sampai dua puluh, pendapat
terbanyak hanya menyebutkan tujuh belas makhraj saja. ‘Erbawi (2009: 99)
menyebutkan bahwa faktor pembeda antara satu hurufdengan huruf lainnya adalah
sifat atau karakter huruf yang mengiringi ketika huruf tersebut diucapkan,
meskipun huruf-huruf itu terbentuk pada satu makhraj. Para ulama sepakat bahwa
sifat huruf merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari huruf itu
sendiri.(Nurhayati,
2015)

Makhraj dalam fonetik didefinisikan sebagai
“tempat tertentu di saluran udara yang merupakan titik kerjasama antara dua
organ bicara, yang satu aktif dan yang kedua pasif”.5Yang dimaksud dengan organ bicara aktif adalah
organ bicara yang bergerak mendatangi organ bicara pasif, seperti bibir bawah
(labial), ujung lidah (apico), tengah lidah (medio), pinggir lidah (lamino),
dan belakang lidah (dorso).(Nasution,
2014).

 

3. FONETIK

Fonetik ialah bidang linguistik yang
mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi
sebagai pembeda makna atau tidak (Chaer, 2003: 103). Jadi semua bunyi bahasa
dapat dipelajari melalui bidang fonetik.(SENI, 2007)

Dalam bukunya, Mansoer Pateda menuliskan bahwa
fonetik adalah ilmu yang mempelajari bunyi-bunyi bahasa tanpa memperhatikan
fungsinya untuk membedakan makna (Verhaar; 1981 : 12). Sedangkan linguis
membagi fonetik ke dalam tiga jenis, yakni: (1) fonetik akustis, (2) fonetik
audiotoris, dan (3) fonetik organis atau artikulatoris.Pembagian ini di
dasarkan pada cara pendekatan atau pemerian bunyi bunyi bahasa.(Pateda, 1994)

Dari ketiga fonetik di atas yang paling sering
berurusan dengan dunia linguistik adalah fonetik artikulatoris, dikarnakan
fonetik artikulatoris lah yang berkenaan dengan masalah bagaiman bunyi- bunyi
itu diklsifikasikan atau diucapkan manusia. Sedangkan fonetik akustik berkenaan
dengan bidang fisika; dan fonetik auditoris lebih berkenaan dengan bidang
kedokteran.(SENI, 2007).

 

4. Kesulitan-kesulitan Pelafalan

            Ketika
mempelajari bahasa Arab, orang non-Arab seringksli digahadpkan pada
kesulitan-kesulitan yang terkait dengan masalah pelafalan. Kesulitan-kesulitan
ini biasanya dipengaruhi beberapa faktor seperti:

a.      
Beberapa orang mengalami kesulitan dalam
mengucapkan bunyi-bunyi yang tidak di temukan dalam bahasa Ibunya.

b.     
Akibat kekeliruan dalam menyimak bunyi-bunyi
huruf Arab dan mengira ada kemiripan dengan bunyi-bunyi huruf pada bahasa
pertamanya, padahal kenyataannya sangan berbeda.

c.      
Beberapa orang mengalami “salah
dengar” lalu melafalkan bunyi huruf Arab sesuai dengan apa yang
didengarnya. Padahal kesalahan dalam mendengarkan dengan sendirinya akan
menyebabkan kesalahan pelafalan.

d.     
Terkadang beberapa orang mengucapkan bunyi
Arab sebagaimana melafalkan bunyi-bunyi huruf pada bahasa pertamanya, bukan
seperti orang-orang Arab melafalkannya. Orang Amerika cenderung melafalkan
huruf ?
sebagai bunyi apicoalveolar daripada bunyi dental. Demikian juga
dalam melafalkan huruf ?.

e.      
Diantara bunyi-bunyi huruf Arab yang dirasa
sulit oleh orang non-Arab semisal bunyi huruf ?, ?, ?,  dan ? yang merupakan bunyi mufakhammah atau muthbaqah
atau muballaqah. Kesulitan juga dirasakan dalam membedakan antara
bunyi huruf ?  dengan ?, ? dengan ?, ?  dengan ?, dan ? dengan ?.

f.      
Diantara bunyi-bunyi huruf Arab yang dirasa
sulit dibedakan adalah bunyi huruf ? dan ?, huruf ?  dengan ? , huruf ? dengan ,? dan huruf ? dengan ?. Bahkan untuk huruf-huruf ini , anak-anak
bangsa Arab pun merasa kesulitan dalam pengucapannya.

g.     
Kesulitan juga sering terjadi dalam membedakan
harakat atau panjang pendeknya bunyi.

h.     
Kesulitan dalam mengucapkan bunyi huruf ?. Mereka tidak mengucapkannya
dengan lidah bergetar, tetapi mengucapkannya secara reflek sebagaimana
dilakukan orang Amerika. Bahkan, orang Inggris seringkali tidak mengucapkannya
sama sekali jika huruf tersebut letaknya di akhir kata.(MUHAMMAD ALI
AL-KHULI, 2010)

 

5. KONTRIBUSI FONETIK DALAM ILMU TAJWID

Dalam ilmu tajwid ada beberapa pembahasan yang
tekait erat dengan ilmu fonetik secara umum dan khusus. Karena tujuan ilmu
tajwid di samping untuk menjaga kalimat Al-Qur’an juga menjaga lisan dari
kekeliruan pelafalan huruf-huruf di dalamnya, sedangkan di sisi lain
“pengucapan suara huruf” merupakan sasaran dalam ilmu fonetik. Sudah jelas
bahwa hasil yang diharapkan dari kedua ilmu ini adalah agar dapat memiliki
kemampuan atau kemahiran dalam membaca Al-Qur’an dan berbahasa Arab, baik
ketika mengucapkan huruf hijaiyah maupun kalimatnya.(Rasyid, 2009).

Secara singkat ilmu tajwid adalah ilmu untuk
mempelajari bagaimana cara melafalkan huruf-huruf atau mengeluarkan bunyi dalam
huruf hijaiyah secara benar sesuai kaidah dan ketetapannya. Dalam hal ini,
fonetik memiliki peran penting dalam pelafalan yang sesuai dengan kaidah bahasa
Arab. Karena fonetik merupakan ilmu tentang tata cara mengeluarkan bunyi dari
dalam anggota tubuh.

Fonetik membagi makhraj kedalam 11 konsonan
titik artikulasi yaitu sebagai berikut:

Huruf Hijaiyah

Nama

NO.

?, ?, ?

Konsonan bilabials (dua bibir)

1

?

Konsonan labio-dental (bibir + gigi)

2

?, ?, ?

Konsonan apico interdental (ujung lidah + ujung gigi)

3

?,?,?,?,?,?

Konsonan apico-dental (ujung lidah + pangkal gigi)

4

?,?,?,?

Konsonan apico-alveolar (ujung lidah + gusi)

5

?,?

Konsonan apico-palatal (ujung lidah + langit-langit
keras)

6

?

Konsonan medio-palatal (tengah lidah + langit-langit
keras)

7

?,?,?

Konsonan dorso-velar (pangkal lidah + langit-langit
lunak)

8

?

Konsonan dorso uvular (pangkal lidah + anak lidah)

9

?,?

Konsonan dorso pharyngal (pangkal lidah + kerongkongan)

10

6??,?

Konosnan glottal (dua buah pita suara)

11

 

Dengan adanya pembagian makhraj dalam fonetik,
seseorang akan lebih mudah dalam membedakan pelafalan bunyi-bunyi khususnya
dalam huruf hijaiyah.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian tentang kontribusi Fonetik dalam ilmu tajwid ini ini dilakukan oleh penulis dengan
menggunakan jenis penelitian pustaka atau library research yang mengambil
sumber data secara kepustakaan. Data diperoleh dengan menggunakan teknik
dokumentasi, yaitu dengan berdasarkan pustaka, baik berupa buku, jurnal,
skripsi, maupun hasil penelitian lain yang terkait dengan kajian dalam
pembahasan ini.

Metode penelitian ini juga mengunakan metode
deskriptif karena data-data yangdikumpulkan berupa kata-kata dan bukan
angka-angkaSumber data yang digunakan adalah jurnal, skripsi dan buku-buku yang
berhubungan dengan judul ini.

 

PENUTUP

Berdasarkan hasil penulisan ini, maka dapat
disimpulkan bahwa fonetik sangatlah memiliki kontribusi yang penting dalam ilmu
tajwid. Tajwid secara harfiah bermakna melakukan sesuatu dengan elok dan indah
atau bagus dan membaguskan. Dalam ilmu Qiraah, tajwid berarti mengeluarkan huruf dari tempatnya
dengan memberikan sifat-sifat yang dimilikinya. Adapun masalah-masalah yang
dikemukakan dalam ilmu ini adalah makharijulhuruf (tempat keluar-masuk huruf).

Dalam ilmu tajwid ada beberapa pembahasan yang
tekait erat dengan ilmu fonetik secara umum dan khusus. Karena tujuan ilmu
tajwid di samping menjaga kalimat Al-Qur’an juga menjaga lisan dari kekeliruan
pengucapanhuruf-huruf di dalamnya, sedangkan di sisi lain “pengucapan suara
huruf” merupakan sasaran dalam ilmu fonetik. Sudah tentu hasil yang diharapkan
dari kedua ilmu ini adalah agar dapat memiliki kemampuan atau kemahiran dalam
membaca Al-Qur’an dan ber- bahasa Arab, baik ketika mengucapkan huruf hijaiyah
maupun kalimatnya

Kesulitan orang non Arab dalam melafalkan
huruf-huruf hijaiyah sesuai dengan kaidah yang benar memanglah sudah menjadi
hal yang tidak asing lagi. Hal ini seringkali terjadi karena kurangnya
pemahaman masyarakat tentang pembagian tata letak keluarnya bunyi dari organ
bicara. Dari kesulitan ini, muncul lah beberapa cara untuk membantu masyarakat agar
bisa menyesuaikan pelafalan sesuai kaidahnya.

Sebenarnya, masyarakat hanya perlu memahami
dimanakah letak lidah, bibir, atau gigi saat melafalkan huruf-huruf hijaiyah. Diantara
bunyi-bunyi huruf Arab yang dirasa sulit oleh orang non-Arab semisal bunyi
huruf ?, ?, ?,  dan ? yang merupakan bunyi mufakhammah atau muthbaqah
atau muballaqah. Kesulitan juga dirasakan dalam membedakan antara
bunyi huruf ?  dengan ?, ? dengan ?, ?  dengan ?, dan ? dengan ?. Kemudian bunyi-bunyi huruf Arab
yang dirasa sulit dibedakan adalah bunyi huruf ? dan ?, huruf ?  dengan ? , huruf ? dengan ,? dan huruf ? dengan ?. Bahkan untuk huruf-huruf ini , anak-anak
bangsa Arab pun merasa kesulitan dalam pengucapannya.

 

Diantara bunyi-bunyi huruf Arab yang dirasa
sulit oleh orang non-Arab semisal bunyi huruf ?, ?, ?,  dan ? yang merupakan bunyi mufakhammah atau muthbaqah
atau muballaqah. Kesulitan juga dirasakan dalam membedakan antara
bunyi huruf ?  dengan ?, ? dengan ?, ?  dengan ?, dan ? dengan ?. Karena  hadirnya ilmu tajwid tidaklah lain hanya
untuk mempermudah orang-orang dalam mempelajari bacaan al quran sesuai
qalqalah, maad, membedakan huruf tebal dan tipis, dan lain sebagainya.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Khazanah

Q.S Muzzamil : 4

Ali, M. U. H., Tarbiyah, J., Studi, P., Agama, P., Tinggi,
S., & Islam, A. (2012). AL-QURAN SISWA SD NEGERI KANDANGAN 04 BAWEN
TAHUN AJARAN 2011-2012.

Khuruf, M., Tajwid, I., Aswat, I., & An, A. (n.d.).
Perbandingan antara ilmu Tajwid dan ilmu Aswat dari segi “Makhorijul Khuruf”?:
analisis studi perbandingan Ilmu.

MUHAMMAD ALI AL-KHULI. (2010). STRATEGI PEMBELAJARAN
BAHASA ARAB. (B. SUBHAN, Ed.). YOGYAKARTA: baSan Publishing.

Nasution, A. S. A. (2014). Memanfaatkan Kajian Fonetik Untuk
Pengembangan Pembelajaran Ilmu Tajwid. Arabiyat, 1(2), 209–222.
https://doi.org/10.15408/a.v1i2.1140

Nikmah, S. N. U. R. (2015). Pengembangan media
pembelajaran makharijul h}uruf hijaiyyah berbasis adobe flash cs6 skripsi.
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG.

Nurhayati, A. W. dan T. (2015). Makhraj al-jauf dalam kajian
ilmu tajwid, 1–20.

Pateda, M. (1994). LINGUISTIK (Sebuah Pengantar).
gorontalo: angkasa Bandung.

RAHAYU, S. (2011). UPAYA MENINGKATKAN PEMAHAMAN TAJWID
DALAM MATA PELAJARAN AL-QUR’AN HADITS DENGAN METODE MIND MAPPING.

Rasyid, H. Al. (2009). Kontribusi Ulama Tajwid terhadap
Perkembangan Ilmu Bahasa. Suhuf, 2(2), 197–210.

SENI, J. (2007). Kajian Fonetis Kosakata Dasar Bahasa Melayu
Bali. Digilib.Umm.Ac.Id, 4.

 

1khazanah

2Q.S Muzzamil :4

3 Moh Amin et,al., Materi
Pokok Quran Hadis I,Binbaga Islam: Jakarta, 1998.hlm. 340 16

4 Moh Amin et,al.1998: 342

5Kama? l Muhammad Bisyr, al-Ashwât
al- Arabiyah (Kairo: Maktabah al-Syaba?b, 1991), h. 89

6Sa?miAya?d Hanna, Mabâdi’ ‘Ilm al-Lisâniyât

al-Hadîtsah, (Alexandria: Da?r
al-Ma’rifah al- Ja?mi’iyah, 1991), h. 232.